Erwan Fajari Travel Photographer

Borondong Garing


Akhirnya saya menulis juga tentang Borondong ini, ingat bukan Brondong tua yang judul lagu dangdut itu tapi ini makanan tradisional khas pasundan hehe. Dulu inget waktu masih pelajar sering ditagih borondong sama dosen di kampus, semenjak itu saya barulah mengenal borondong. padahal borondong ini makanan tradisional khas Majalaya kampung saya (tapi ini belum ada bukti loh klo borondong ini asal muasalnya dari Majalaya). Dari penasaran dan keingintahuan, lalu saya mencari borondong ini di pasar Majalaya (biasanya suka ada di pasar yang jualan), ternyata sudah jarang yg menjual borondong ini. Menurut saya sih mungkin tergesernya makanan ini karena konsumennya berkurang  dan banyaknya makanan yang lebih  (sok tau hehe). Sungguh disayangkan apabila tidak ada yang melestarikan makanan tradisional ini.

Mencari informasi dari teman tentang keberadaan borondong ini, akhirnya masih ada pembuat borondong tapi bukan di Kecamatan Majalaya melainkan di Kecamatan Ibun. Dikediaman rumahnya Ma Erah (alm), di Kp. Sangkan Rt.02 Rw. 02 Desa Laksana Kec. Ibun Kabupaten Bandung, Jawa barat.




Borondong Madu Rasa Ma Erah(alm)

Rumahnya Ma Erah (alm)


Borondong adalah salah satu makanan etnik khas pasundan yang terbuat dari gabah ketan yang diolah dan dicampur gula, kemudian dicetak menggunakan batok kelapa maka jadilah Borondong yang rasanya manis. Terdapat dua jenis yaitu Borondong Garing dan Borondong Enten.

Berdasarkan Sejarahnya belum ada yang tahu asal muasalnya makanan tradisional ini saya sendiri bertanya kepada Pak Cucu Supriatna (pengelola Borondong Ma Erah) tentang sejarah dan apa makanan ini asli kecamatan Majalaya atau Kecamatan Ibun. Beliau hanya menjawab saya kurang begitu yakin mengenai asal mulanya Borondong ini, saya juga pelaku produsen hanya turun temurun dari nenek moyang keturunan saya.

Di kampung Sangkan sekitar tahun 1920-an sudah ada yang mulai membuat Borondong yaitu bernama Mu Enit, di Kampung Garung juga adiknya Mu Enit yaitu Mu Enil juga membuat Borondong tapi hanya sebatas untuk dimakan bersama teh hangat dan untuk keperluan dirumah saja.

Sekitar tahun 1940-an anaknya Mu Enit yaitu Bi Anah dan Bi Tarsih meneruskan Orangtuanya untuk membuat Borondong tidak saja keperluan sendiri tapi ada juga pesanan untuk hajatan dari daerah sekitar Desa Cibeet ( sekarang Desa Laksana).

Awal tahun 1950 an tetangga yang dekat dan yang suka membantu Bi Anah maupun Bi Tarsih yaitu Iming, Enang, Erah, Encoh dan Ioh. Mereka mulai merintis untuk membuat Borondong karena pesanan yang makin banyak.

Ma Erah (alm) Perintis Borondong di Kec Ibun sejak tahun 60an
Di tahun 1960 Ma Erah mulai membuat Borondong untuk dijual secara kecil-kecilan dengan model seadanya. Gabah ketan dari sawah sendiri, kayu bakar dari kebun sendiri dan gula dibeli secara kecil-kecilan juga serta pengerjaan nya jugadilakukan bersama anak dan suami.

Sekitar tahun 1970 an Borondong Ma Erah sudah banyak langganan baik sekitar pedesaan maupun luar kecamatan. Langganan biasanya memesan Borondong untuk hajatan, oleh-oleh dan ada juga yang menjualnya di warung- warung. Borondong buatan Me Erah ini semakin populer saja sehingga untuk menutupi pesanan awal tahun 1980 an Ma Erah menambah pekerja 5 orang yaitu tetangganya dan hingga kini Ma Erah mempunyai pekerja 10 orang disamping keluarganya.

Tanggal 14 Mei 2004, Borondongnya Ma Erah pernah memecahkan rekor MURI dengan membuat Gedung Sate dari Borondong yang menghabiskan gabah 2 ton, gula merah 800kg, gula putih 500kg dan kayu bakar 10M. Dengan membentuk bahan dengan ukuran 10cm x 20cm x 2 cm, bahan tersebut disusun rapih dibentuk menjadi Gedung Sate yang megah. Pemecah rekor tersebut atas kerja sama antara Bandung Cheff Association dan Dinas Indag Agro. Rekor MURI ini diadakan di Mall Istana Plaza Bandung. Pembuatan Borondong ini dikerjakan oleh mahasiswa dan mahasiswi Ariyanti Bandung. Peletakan Borondong pertama pada kerangka Gedung Sate oleh Bapak Presiden BEA. Dengan bangga juga Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia membuka acara dengan memotong untaian Borondong. Pemberian anugerah MURI (Museum Rekor Indonesia) ini diberikan kepada Ma Erah yang disaksikan oleh Bapak Camat Kecamatan Ibun dan Bapak Kepala Desa Laksana serta diliput oleh surat kabar maupun stasion televisi swasta.

Setelah menerima penghargaan MURI Kediaman rumahnya Ma Erah ini juga pernah di datengin oleh stasion tv (asal usul, si gudul), dan banyak juga mahasiswa-mahasiswi yang melakukan tugas akhir atau skripsi tentang Borondong. Tahun 2013 ini adanya bantuan dari PT. Pertamina terhadap pengrajin Borondong Ma Erah berupa mesin sangray (pengering) dan mesin oven. Bagus sekali sudah seharusnya ada bantuan dari pemerintah supaya Borondong ini semakin eksis. (pembuatan secara tradisional juga harus masih tetap ada ya, meskipun sekarang sudah ada mesin tapi pembuatan secara tradisional juga harus ada supaya anak cucu kita dapat melihat proses pembuatan secara tradisional)


Penghargaan dari MURI

Penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan RI


Proses pembuatannya :
  • Mempersiapkan gabah ketannya secukupnya, dan masukkan ke dalam kendi dengan api yang besar dan di putar2 menggunakan alat berupa pengaduk supaya rata dan sesekali ditutup karena hal ini menimbulkan gabah tersebut menjadi mengembang (seperti jagung saja yang diubah menjadi popcron) proses ini biasa disebut disangray. Pekerjanya biasanya disebut tukang sangray.
Diaduk terus ya bu supaya merata matangnya hehe


penuh dengan kesabaran karena lumayan panas
Memindahkan hasil yang telah disangray

  • Proses kedua yaitu pemilihan, biasa disebut Tukang Pilih. Disini memilih hasil sangray yaitu gabah ketan yang tidak mengembang. Mungkin karena hanya menggunakan pengapiannya memakai kayu bakar jadi kurang merata hasilnya.
Sedang memilih gabah yang belum mengembang

  • Proses ke tiga yaitu mencairkan gula merah untuk dicampur dengan hasil gabah yang disangray tadi. Masukan gula merah kedalam wadah dengan api yang besar dan terus diaduk dan tidak boleh apinya padam karena nantinya bisa jadi karamel. Tukang pengaduk ini selain mengaduk gula merah dia juga kadang mengaduk gula putih. Adonan untuk Borondong Enten juga diaduknya disini.
Pengadukan adonan untuk Borondong Enten

Tetap semangat yah bu hehe


  • Proses ke empat yaitu pencetakan, Tukang catak ini begitu pandai (mungkin udah terbiasa :P), disini secara umum yang diproduksi bentuk hanya 2 bentuk yaitu bundar seperti bola dan pipih (bukan pipih sih yaa liat saja nanti di gambar yah ), dibentuk atau dicetak menggunakan batok kelapa loh, unik yah. kalau untuk hajatan biasanya dapet memilih kalau untuk bentuknya ada yang bentuk ikan, love, ada juga menyerupai buaya.
Sedang menyiram gabah yg telah disangray dengan gula merah


Mencampurkan gabah dengan gula merah

Inilah proses untuk bentuk nya yg pipih menggunakan cup kecil dan ditekan-tekan menggunakan kayu yang dibentuk

Inilah Borondong garing yang dibentuk dengan batok kelapa
Setelah udah dibentuk lalu dijemur diatas sinar matahari sampai benar-benar kering, kalau untuk pembuatan Borondong Enten prosesnya hampir sama tapi tidak ada pencetakan atau pembentukan. Pembuatannya hanya adonan yang telah diaduk tadi oleh tukang pengaduk di masukin ketumpukan gabah yang udah disangray lalu digoyang-goyangkan tumpukan tersebut dan jadilah Borondong Enten. untuk proses penjemuran lebih lama dibandingkan Borondong garing.


Seperti inilah proses pembuatan Borondong Enten

yang dpn Borondong Garing yang putih itu Borondong Enten



Kira-kira seperti iyulah proses pembuatan Borondong khas pasundan ini. Baik Borondong Garing maupun Borondong Enten sama saja sama-sama manis seperti saya hehe.


Saya pribadi sangat bangga ternyata makanan khas pasundan ini masih eksis meskipun menurut sejarah belum tau asal usul nya siapa yang membuat Borondong ini, soalnya Ma Erah juga awalnya pekerja kebun bakau dan karena membantu Bi Anah dan Bi Tarsih, jadilah Ma Erah juga sebagai pelaku pembuat Borondong ini, berdasarkan sejarah juga tidak menyatakan bahwa makanan ini berasal dari Majalaya atau Ibun. Meskipun belum ada sejarahnya tentang Borondong, marilah kita sebagai orang sunda lestarikan makanan tradisional ini, jangan biarkan suatu saat nanti Borondong ini hanya namanya saja.



Susunan Tim Borondong Madu Rasa :

Pengusaha Borondong
Ma Erah (alm)

Pimpinan
Yaya Juaria

Sekertaris
Cucu Supriatna

Tukang Cetak
Ibu Ade Nariah
Ibu Eungkar
Ibu Iis
Ibu Esih 
Ibuh Awat
Ibu Ae

Tukang Pilih
Ibu Atin
Ibu Iting
Ibu Rohaeti
Ibu Uwang

Tukang Sangray
Ibu Eras


Terimakasih kepada Bapak Cucu Supriatna selaku penerus usaha Borondong Ma Erah ini, yang telah membantu saya untuk mengexplore makanan tradisional ini. Masukan dari saya bentuk dan rasanya lebih bervariatif, ini untuk menjadikan Borondong ini tetap bertahan. Misalnya dari rasa ada yang rasa cokelat, strawberry, atau bisa juga membuat yang pedas dimana banyak sekali yang menyukai cemilan pedas di pasundan ini. Tapi tetap harus ada yang rasa tradisionalnya. Sukses Terus Borondong ! 


Follow @erwanfajari yah
Terimakasih atas kunjungannya






Read More …

Perjalanan menuju Bandung dari Kab.Blora via Purwodadi tepatnya di desa Maggarmas, kecamatatan Godong, kabupaten Grobogan, Jawa Tengah,disana terletak objek wisata yang terkenal yaitu Api Abadi Mrapen. Kompleks api abadi ini terjadi karena fenomena geologi alam berupa keluarkan gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun (menurut pedagang disekitaran kawasan objek wisata) soalnya saya ketika kesana ga hujan tuh hahaha.
Dikawasan ini terdapat beberapa monumen yang dibangun untuk memperingati bahwa pernah terjadinya peristiwa-peristiwa besar pengambilan api ini untuk menyalakan obor. diantaranya :
  • Pesta Olahraga Internasional GANEFO I tanggal 1 November 1963
  • Pekan Olahraga Nasional (PON) ke X tahun 1981
  • POR PWI tshun 1983
  • HAORNAS 
  • dan digunakan juga untuk obor upacara hari raya waisak
Selain api abadi di komplek tersebut ada juga kolam dengan air mendidih (padahal air tersebut apabila dipegang dingin lho..) yang konon dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit kulit (hmm..Indonesia banget), serta batu bobot penginggalan sunan kalijaga yang konon apabila seseorang dapat mengangkatnya maka akan mendapatkan keinginannya (hmm..), mungkin ini cerita rakyat yang muncul dari obrolan biasa dan menjadi melegenda, kita tetap harus menghargai apa yang dipercaya mereka tapi kita juga jangan sampai menduakan tuhan kita (so sweettt haha).


Api Abadi Mrapen

Batu Bobot kurang lebih 20kg abad XV, Peninggalan Sunan Kalijaga 

Air yang mendidih tapi airnya dingin

Monumen PON XIV 1996


Monumen Pengambilan Api Untuk Menyalakan Obor GANEFO. I

Pertama kali Pengambilan Api Mrapen untuk PON X tahun 1981



Terima kasih telah bekunjung
Follow @erwanfajari yah


Read More …

Akhirnya Kami (saya+Sansan) sampai juga di Wisata Goa Terawang yang ditempuh dari Semarang 3jam setengah atau sekitar 107km, (dari Bandung - Semarang 15jam ) jadi kalau dari Bandung 18 jam setengah + udah istirahat 3jam setengah atau sekitar 555km menggunakan sepeda motor.



Wisata Goa Terawang terletak di Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Komplek goa yang memiliki enam goa dalam satu kawasan. Di dalam kawasan seluas 13 hektar itu di kelilingi pohon jati (sejuk dan segar :P) yang dikelola oleh Perhutani.


Goa Terawang merupakan satu-satunya goa yang di dalamnya terang disiang hari karena di langit-langit goa terdapat sejumlah lubang yang terbentuk secara alami, ketika masuk ke Goa terasa sejuk adanya sirkulasi udara yg melewati sejumlah lubang tersebut.

Tiket masuk ke Kawasan wisata itu cukup terjangkau hanya Rp.4000 per orang, kalau bawa motor seperti saya bayar Rp.5000 buat parkir. Setelah membayar kamipun pergi ke seberang jalan untuk menggambil gambar tampak depan dari Goa Terawang tersebut. Ternyata di Kawasan Wisata Goa ini terdapat gerombolan monyet yang mempunyai beberapa koloni yang dipimpin oleh sang pejantan tangguh hahaha. dag dig dug dag dig dug (ceritanya jantung yang berdegup kencang) karena saya punya pengalaman di Uluwatu, di Monkey Forest, di Plangon, ya hampir sama semuanya suka menjabret kamera saya. Saya bertanya kepada ibu2 penjaga tiket "mba'e itu monyetnya baik kan ?" lalu mba'e itu menjawab tenang aja mas kan ada mbae disini yang selalu mendampingi" Gubraakk !!! preet duut sangat.

Ketika masuk, Goa terawang berada di sebelah kiri ga jauh dari pintu tiket masuk. Untung saja monyetnya udah pergi, mungkin gara-gara si mba'e tadi kali yah haha. Kamipun segera masuk ke mulut Goa soalnya waktu udah sore. Setiap Goa biasanya selalu bau (karena kotoran kelelawar), pengap(kurangnya oksigen) dan gelap, tapi kalau Goa Terawang beda keterbalikan dari bau, pengap, dan gelap. Di bagian tengah Goa, cahaya yang masuk banyak yah jadi keliatan deh banyak sampah plastik (kurangnya perhatian dari Pemkab.Blora). Masuk ke bagian dalam Goa mulai gelap tapi masih terlihat ga perlu pakai penerang atau senter, tapi awas hati2 jalanannya licin dan berlumpur. Motret di Goa Terawang kurang puas karena udah sore jadi pancaran sinar mataharinya kurang bagus (bagusnya buat photographer yang mau motret Goa ini bagusnya siang hari). Di tengah dan di dalam Goa terdapat stalagmite and stalactite yang menyerupai bentuk Orang, hewan, dan benda gimana kita melihat berdasarkan imajinasi dan sudut pandang kita. Haripun udah mulai petang, ketika keluar dari Goa Terawang saya melihat pemandangan bagus, bertenggernya pohon jati yang disinari oleh matahari tenggelam (sunset). Saya langsung mengabadikan moment ini bersama teman saya Sansan sembari duduk beristirahat. Matahari udah tenggelam dan kamipun lekas berbenah untuk pergi ke warung kopi sambil mencari tempat tidur untuk istirahat hari pertama di Kab.Blora. 

Ditempat warung kopi nya Mas Usman, ternyata mas Usman juga waktu mudanya penjelajah juga alias perantau makanya dia begitu baik dan ramah kepada pendatang seperti kita ini. Satu jam berlalu kami di tanya sama mas usman "kalian malam ini tidur dimana ?" dan kamipun tersenyum sambil mata berkaca-kaca hahaha, saya menjawab belum tau mas. Kebaikan Mas usman mau membawa kami rumah Kepala Desa untuk menginap dirumahnya, saya sangat berterimakasih dan merepotkan sekali Mas usman. Tiba-tiba datanglah seorang Pria ke warungnya mas Usman, pria tersebut bernama Mas Giyarto, beliau seorang guru SD dan SMP di kec. Kunduran ini. Kamipun ga jadi ke rumah kepada desa soalnya Mas Giyarto menarwakan kami untuk menginap di rumahnya. Kami sangat berterimakasih sama Mas Usman dan Mas Giyarto yang sangat ramah dan mau mencari serta menawarkan untuk tidur dirumahnya. Setibanya di rumahnya Mas Giyarto saya sendiri begitu takjub melihat rumahnya yang sangat sederhana, bangunan khas Joglo (rumah adat Jogja) dan rumahnya tanpa alas alias masih tanah. Di desa ini, Rumahnya Mas Gyarto yang paling unik beda dari yang lain meskipun hampir sama semuanya.Kesederhanaan seorang guru ini membuat saya lebih takjub. 


Pagi hari tiba kamipun pergi keluar untuk melihat aktifitas penduduk lokal di desa ini. Ternyata mayoritas penduduk disini petani, bercocok tanam jagung, padi, tebu dan ada juga yang penambang batu kapur. Jam 8 pagi kami pamit kepada Mas Giyarto dan sangat berterimakasih kepada beliau. Kamipun segera meninggalkan desa tersebut dan berencana motret Human Interest di sekiratan kec. Kunduran. ada yang panen Jagung, ada yang membajak sawah menggunakan lembu (sapi) masih tradisional, ada puja yang membawa makanan lembu berupa rumput liar menggunakan sepeda, sungguh menakjubkan memotret Human Interest di kec. Kuduran Kab. Blora, Jawa Tengah ini. 






Goa Terawang

Goa Terawang tampak depan dan tiket masuk

Mulut Goa Terawang

Goa Terawang bagian tengah

Goa Terawang bagian dalam

Selain Goa Terawang ada Goa lainnya

Tempat untuk pertunjukkan kesenian dihari besar

Tempat beristirahat bagi wisatawan, di depan Goa Terawang

Goa Terawang di kelilingi oleh pohon jati yang dikelola Perhutani

Sunset di kawasan Goa Terawang







Terima kasih atas kunjungannya 
Follow @erwanfajari 
Read More …

Setelah mengunjungi Tugu Muda dan Lawang Sewu saya bersama kedua teman saya Sansan Erlangga dan Yeshinta Fitria (teman saya) sempat singgah dulu mengunjungi Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug)ini merupakan bangunan gereja protestan tertua yang ada di Jawa tengah dan masih digunakan sampai saat ini. Gereja ini dibangun oleh masyarakat Belanda yang dibangun pada tahun 1753.Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel Bangunan cagar budaya ini terletak di Jl. Letjend Suprapto No. 32 Kota Lama Semarang Jawa Tengah.
Waktu terus berjalan dan ga terasa udah jam 11.00 malam, kami bertiga langsung mengeluarkan peralatan photo masing- masing dan langsung mengabadikan Gereja Blenduk ini. Kami di tempat ini cuma sebentar sekitar 1 jam dan langsung isi perut dengan nasi kucing di Jatingaleh. Istirahat di rumahnya Yeshinta karena besok mau pergi ke Kab. Blora.

aaa




Read More …


Diresmikan oleh H. Sukawi Sutarip, SH, SE. Wali Kota Semarang

Bandung - Semarang menempuh 15 jam perjalanan menggunakan sepeda motor sebernernya 12 jam tp di perjalana istirahat 3 jam karena perut lapar terus dan nyasar dulu di Ambarawa hahaha. Saya dan sansan tiba di Semarang jam 8 pagi, padahal Semarang tempat tujuan kami ke dua setelah Kab. Blora, karena kondisi kita udah pada ngantuk kali yah hampir nabrak pengendara lain (dilarang berkendara saat posisi mata udah 5 watt :P) jadi kami ke Semarang dulu dihari pertama di Jawa Tengah. 

Tepatnya istirahat dirumah sang mantan hahaha kebongkar deh sabar san wkwk, rumahnya didaerah Jatingaleh dan nama yang punya rumahnya Yeshinta fitria. Tiba dirumahnya langsung disambut ramah sama ibunya, kamipun dikasih sarapan dan bantal (wow pengertian sekali haha) Setelah istirahat cukup kami melanjutkan untuk memotret Tugu Muda dan Lawang sewu sekitar 10mnt dari Jatingaleh.
Sore hari tiba ditengah kota Semarang, kami berdua makan nasi miaaw (nasi kucing) di sebelah Lawang Sewu. Nasi 2 bungkus + gorengan + tempe + sate usus = Rp 5.500, murah meriah lumayan buat hiburan perut. 

Di taman Tugu Muda ini kami punya teman baru bernama Veri, dia seorang guru yang suka dengan photography. Untuk kawasan taman ini dia Jagonya hampir tiap hari nongkrong di sekitaran taman Tugu muda ini. maka jangan kaget klo nanti anda berkunjung ke daerah ini ada dia sedang asyik jeprat jepret, sapa aja ga akan menggigit kok hahaha dia baik supel dan ramah. nih dibawah ada penampakannya :

Veri seorang guru yang suka berpetualang

Veri ini pernah bersepeda dari Kota Yogyakarta ke Riau naik sepeda (wow keren terkesima mata belo), perjalanannya selama 40 hari. Sukses terus buat mas Veri, terimakasih atas sharing nya mas.

Lawang Sewu merupakan bangunan bergaya arsitektur Eropa era 1850-1940an. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907 . Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Untuk masuk ke Lawang Sewu Rp.10.000 pake guide Rp.30.000 masuk bawah tanah Rp.10.000.

Tugu Muda adalah salah satu tempat bersejarah di Kota Semarang. Tugu ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan, yang telah gugur dalaPertempuran Lima Hari melawan Jepang pada tanggal 14 hingga 18 Oktober 1945. Para pemuda warga Semarang yang gigih, rela berkorban dengan semangat berjuang dan patriotisme warga Semarang maka dibangunlah Tugu Muda ini. Bagian bawah bangunan bersejarah Tugu Muda memiliki relief yang menceritakan tentang terjadinya pertempuran lima hari tersebut.

Lawang Sewu
Tugu Muda
Tugu Muda
Lawang Sewu
Lawang Sewu & Tugu Muda


Follow @erwanfajari yah 
Terimakasih atas kunjungannya yah #JatengTrip

Read More …

Dari kejauhan terlihat dua bangunan yang berada di kiri kanan badan jalan, Gapura ini merupakan perbatasan antara Jabar dan Jateng yang terletak di daerah Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap. Gerbang perbatasan ini mengapit sungai citanduy yang menjadi pembatas antara Propinsi Jawa Barat (Kota Banjar) dan Jawa Tengah (Dayeuhluhur-Cilacap).

"Gapura adalah suatu struktur bangunan pintu masuk atau gerbang ke suatu kawsan atau kawasan. Gapura sering dijumpai di pura dan tempat suci Hindu, karena Gapura merupakan unsur penting dalam arsitektur Hindu. Gapura juga sering diartikan sebagai pintu gerbang. Dalam bidang arsitektur, gapura sering disebut dengan entrance, namun entrance itu sendiri tidak bisa diartikan sebagai gapura, Simbol yang dimaksudkan disini bisa juga diartikan sebuah ikon suatu wilayah atau area. Sebuah gapura itu bisa disebut sebagai ikon karena sering menjadi komponen pertama yang dilihat ketika memasuki suatu wilayah".  
Gapura Perbatasan Jabar-Jateng


Gapura Perbatasan Jabar-Jateng


Patung Kuda Putih Pangeran Diponegoro 
Read More …